Edisi ke-46: September 2017
Poin utama
- Permintaan sapi potong terus menurun, importir Indonesia dalam mode sintas
- China masih terus melawan tren mata uang dan tren harga importir besar Asia lainnya
Indonesia: Harga sapi potong steer AUD $3,78/kg bobot hidup (Rp10.600 = AUD $1)
Harga sapi potong dan nilai tukar mata uang AUD/Rp tetap stabil di bulan September. Namun, para importir bingung dan cemas atas turunnya permintaan sapi potong. Semenjak masuknya daging kerbau India pada bulan September 2016, permintaan sapi potong, baik sapi bakalan impor maupun sapi lokal turun ke tingkat yang cukup stabil, sekitar 50% dari tingkat pra-kerbau India. Selama September, importir melaporkan terjadinya penurunan permintaan secara mendadak sampai sekitar 40% pra-kerbau India. Yang lebih mencemaskan lagi ialah, permintaan tidak memberikan respons terhadap pemotongan harga. Para importir mengatakan bahwa penawaran diskon tidak mampu meningkatkan penjualan! Penurunan permintaan adalah masalah bisnis yang sangat serius, tetapi yang paling membuat frustrasi adalah tak seorang pun tahu alasannya.
Saya sempat berbicara dengan beberapa importir yang mengungkapkan berbagai dugaan mereka, kendati mereka mengaku tidak yakin alasan sesungguhnya di balik penurunan permintaan ini. Jadi ini murni spekulasi. Dugaan mereka antara lain:
- Konsumen sedang mengurangi belanja setelah banyak pengeluaran selama perayaan keagamaan di bulan Ramadhan/Lebaran dan Lebaran Haji.
- Kemerosotan ekonomi secara umum yang mengakibatkan pengurangan belanja konsumen di semua sektor
- Peralihan pengeluaran konsumen untuk perjalanan lokal dan internasional dengan mengurangi pengeluaran di sektor lain
- Terjadi kemerosotan khusus dalam sektor layanan pangan dalam negeri
Bulan lalu, saya mengibaratkan situasi para importir sebagai jalan buntu. Bulan ini, saya pikir gambaran yang paling pas adalah ‘pertarungan sengit’ demi kelangsungan bisnisnya. Situasi pasar di bagian utara Australia juga bisa dibilang membingungkan sebab harga tetap kuat kendati permintaan terus menurun. Saya sudah mengikuti perkembangan pasar sapi di kawasan Australia utara selama hampir 40 tahun. Selama itu, pasar sapi Australia betul-betul besar meskipun secara geografis tersebar di wilayah yang sangat luas. Tren harga ternak di satu tempat di Australia biasanya menular ke tempat lain dalam waktu yang relatif singkat. Harga sapi di Queensland selalu sama dengan harga di Northern Territory (NT), plus-minus ongkos angkut tergantung arus. Sapi sangat mudah dipindahkan sehingga jika harganya di tempat lain lebih baik, maka sapi mudah dipindahkan untuk memenuhi kebutuhan. Saat ini, harga sapi di Australia bagian selatan melemah sementara harga di kawasan NT tetap kuat. Bahkan, penurunan harga yang biasanya terjadi selama periode puncak mustering (ketika sapi dihimpun untuk panen) di musim panas dan periode suplai, tidak terlihat di tahun ini. Ini baru pertama kali terjadi. Harga juga tetap kuat, terlepas dari rendahnya permintaan dari pasar langganan kita di Asia! Lagi-lagi, tak seorang pun tahu jawabannya. Mereka hanya mampu mengatakan bahwa jumlah sapi menurun meskipun NT tidak mengalami kekeringan seperti di Queensland, dan jumlah sapi di NT relatif stabil! Sekitar 100.000 ekor sapi bakalan diimpor dari Australia pada bulan Agustus dan September untuk mengembaikan stok di feedlot setelah masa perayaan keagamaan. Kini, para importir harus memutar otak untuk menjual sapi bakalan ini setelah selesai digemukkan di bulan Desember nanti. Sekalipun mereka bisa mendapatkan pembeli, peluang untuk meraih keuntungan rasanya sangat kecil.
Situasi ini diperburuk oleh adanya penilaian kinerja terhadap kebijakan impor 5:1 (1 ekor sapi indukan untuk setiap 5 ekor sapi bakalan) yang akan dimulai pada awal tahun 2018. Pemerintah Indonesia menuntut para importir menandatangani perjanjian ini sebelum mereka diperbolehkan mendapatkan izin impor pada tahun 2016. Semua importir harus menandatangani jaminan untuk mematuhi kebijakan ini. Ketika itu, pilihannya adalah: jika Anda tidak setuju berarti Anda akan langsung bangkrut, atau setuju dan akan bangkrut dua tahun kemudian, ketika penilaian akhir dilakukan. Tenggat waktu dua tahun tersebut semakin dekat, dan semua orang tahu bahwa sapi indukan yang diimpor hanya sedikit. Artinya, lebih dari 90% importir telah gagal memenuhi persyaratan kebijakan 5:1 pemerintah. Saya mendengar selentingan bahwa negosiasi sedang dilakukan dengan pemerintah untuk memodifikasi formula 5:1 ini, agar dapat mencerminkan persentase kapasitas penggemukan bukannya persentase impor sapi bakalan tahunan. Malang bagi para importir, mereka harus berurusan dengan dua Kementerian, sebab baik Kementerian Pertanian maupun Kementerian Perdagangan sama-sama memiliki kepentingan dalam urusan problematis ini, sehingga tingkat kesulitannya berlipat ganda.
Jika sapi indukan produktif diimpor, apakah mereka mampu dikelola dengan baik untuk berkontribusi bagi pasokan daging sapi nasional? Ya, bisa. Baru-baru ini saya mengunjungi sebuah proyek di Kalimantan Timur di mana sapi indukan produktif dikirim dari Australia pada akhir tahun 2015. Di proyek itu, sapi-sapi mendapatkan pemeliharaan yang akan membuat iri sebagian besar produsen daging sapi Australia.
Sapi betina dalam foto di bawah ini terlihat mengalami kesulitan melahirkan sekitar pukul 05.00. Pakar kehewanan setempat (Pak Pryogo yang tinggal cukup dekat) dipanggil dan membantu sapi beranak pada pukul 06.00.
Karena anak sapi yang baru lahir agak lemah dan lambat minum, Pak Pryogo memerah kolostrum dari induknya dan memberikannya untuk anak sapi dengan menggunakan botol.
Sangat mudah memahami perhatian besar yang diberikan pada sapi-sapi ini, sebab harga sapi ini per ekor bahkan lebih tinggi daripada harga rumah petani.
Memang tidak semua, tetapi banyak proyek yang saya kunjungi yang sama bagusnya, juga banyak yang mengikuti pola manajemen seperti ini. Pola manajemen ini akan berhasil jika para peternak mendapatkan pelatihan dan dukungan yang tepat dari Dinas Pertanian dan Peternakan setempat.
Di Indonesia, ada puluhan ribu desa yang mampu menjalankan proyek seperti ini.
Vietnam: Sapi potong steer AUD $3,77/kg (VND 18.000 = AUD $1)
Harga sapi potong di bagian utara dan selatan stabil, hampir sama dengan bulan lalu. Harga sapi steer terbaik yang besar di bagian utara bisa mencapai 71.000 Dong, sementara untuk sapi steer dan sapi jantan yang bagus di bagian selatan berkisar pada 68.000 sampai 70.000 Dong. Permintaan atas sapi Thailand terus melemah karena hasil karkasnya belum menarik bagi para penjual daging.
Thailand: Sapi potong steer AUD $3,72/kg (Baht 26,3 = AUD $1)
Harga sapi potong dalam negeri melemah, ada yang dijual di bawah 100 Baht/kg. Harga pasar sebagian besar dikendalikan oleh permintaan dalam negeri, karena tingkat ekspor sapi hidup masih tetap rendah.
Malaysia: Sapi potong steer AUD $3,60 per/kg (RM3,33 = $1 AUD)
Tidak ada perubahan di pasar Malaysia setelah beberapa bulan masa perayaan keagamaan. Harga eceran untuk daging kerbau India juga masih stabil.
Filipina: Sapi potong AUD $2,96/kg (Peso 40,5 = AUD $1)
Pasar daging sapi dan perekonomian secara umum tetap kuat. Ada sedikit kenaikan pada harga sapi potong di bulan September, dari 110 menjadi 120 Peso per kg bobot hidup. Nilai tukar Peso tetap stabil meskipun Presiden Filipina terus mengobarkan perang terhadap narkoba dan terorisme tanpa tanda-tanda akan mengendur.
China: Sapi potong AUD $4,59/kg (RMB 5,23 = AUD $1)
Mata uang RMB tetap kuat untuk sapi potong bulan ini, dan sapi gemuk dijual seharga RMB 24 per kg bobot hidup di Beijing dan Shanghai.
Tabel di bawah ini menunjukkan kenaikan harga yang lambat namun stabil Beijing dan Shanghai selama tujuh bulan terakhir. Menurut saya, tren kenaikan harga di Shanghai lebih kuat daripada di Beijing. Kapasitas konsumsi di Shanghai jauh lebih besar sebab konsumen di kota ini umumnya adalah orang-orang terkaya di China. Pasokan daging sapi terus berkurang karena para peternak mulai meninggalkan usaha ini akibat rendahnya keuntungan dan meningkatnya tekanan dari pemerintah terkait dengan isu lingkungan di Mongolia Dalam dan di tempat lainnya. Desakan pemerintah untuk meningkatkan perlindungan terhadap kawasan padang rumput kemungkinan akan semakin mengurangi jumlah sapi (juga domba dan kambing) di wilayah utara dan barat laut yang biasanya menjadi kawasan peternakan. Pengakfiran sapi perah sudah berkurang karena masa sulit akibat musim kemarau telah berlalu.
Permintaan dalam negeri umumnya meningkat ketika memasuki musim dingin, karena biasanya masyarakat mengkonsumsi lebih banyak daging sapi di musim dingin.
Laos
Kamboja
Semua pasar tradisional Asia sama. Bagian penjualan daging selalu kotor, berbau dan berantakan, dan produk jualan disajikan dengan asal-asalan. Jauh berbeda dengan bagian penjualan buah dan sayur yang selalu ditata dengan indah, seolah bersaing memperebutkan hadiah untuk kios dengan dekorasi paling menarik. Mengapa begitu? Lihatlah foto di bawah, khususnya kios daging segar di pasar di ibukota Phnom Penh. Berikutnya, ada dua foto dari pasar buah dan sayuran di tempat lain. Foto pertama diambil di pasar Sarawak dan foto kedua diambil di pasar Laos.
Angka-angka pada tabel ini dikonversi ke AUD$ dari kurs masing-masing negara yang berubah setiap harinya, sehingga harga aktualnya sedikit berbeda oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang terus berubah. Harga dalam AUD$ yang disajikan di bawah ini hendaknya dilihat sebagai sebuah tren, bukannya harga persis masing-masingnya. Bila memungkinkan, daging potong yang digunakan untuk penentuan harga di pasar tradisional dan di supermarket adalah bagian knuckle/round atau yang biasa disebut daging kelapa.
0 Responses
Reblogged this on Indonesian Livestock Industry News.